Lukisan Humanisme Berjudul Tulus
TULUS merupakan sebuah karya lukisan cat minyak di atas kanvas tebal yang merekam keheningan penuh makna dari tindakan sederhana: menjahit bendera Merah Putih. Melalui penggambaran seorang wanita tua, karya ini tidak hanya menyajikan representasi visual, tetapi juga menyuarakan nilai ketulusan, kesabaran, dan pengabdian yang kerap luput dari sorotan sejarah.
Objek utama dalam lukisan ini adalah sosok perempuan lanjut usia yang digambarkan dengan realisme kuat. Wajahnya penuh keriput, matanya menunduk dengan ekspresi hening dan khusyuk, seolah seluruh kesadarannya tertuju pada benang yang sedang menyatukan dua bidang kain merah dan putih. Ekspresi tersebut memancarkan kedalaman emosional—bukan kesedihan, melainkan ketenangan yang lahir dari penerimaan hidup dan keikhlasan dalam menjalani peran.
Aktivitas menjahit menjadi simbol sentral dalam karya ini. Jarum dan benang bukan hanya alat kerja, melainkan metafora tentang upaya merawat, menyatukan, dan menjaga keutuhan nilai. Merah dan putih yang dijahit dengan tangan renta itu melambangkan bangsa yang tidak dibangun oleh satu generasi saja, melainkan oleh kerja panjang lintas usia yang dilakukan dalam kesunyian. Ketulusan hadir bukan dalam gestur heroik, melainkan dalam rutinitas yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Secara visual, komposisi lukisan dirancang dengan keseimbangan yang matang. Fokus utama berada pada interaksi antara tangan, wajah, dan kain bendera, sementara latar belakang berupa anyaman bambu menghadirkan suasana domestik yang intim dan membumi. Anyaman tersebut juga merepresentasikan nilai tradisi, keterikatan dengan akar budaya, serta kesederhanaan hidup masyarakat Indonesia.
Busana hijau bermotif yang dikenakan sang wanita memberikan kontras yang harmonis terhadap warna merah putih. Hijau dihadirkan sebagai simbol kehidupan, ketahanan, dan kesinambungan, memperkuat narasi tentang harapan yang terus tumbuh meskipun usia telah menua. Permainan cahaya lembut pada wajah dan tangan menegaskan kesan sakral, seolah momen menjahit ini adalah sebuah ritual personal yang penuh makna.
Dari segi teknis, karya ini dikerjakan menggunakan cat minyak Winsor & Newton di atas kanvas Marsoto tebal, memberikan kekuatan struktur dan daya tahan jangka panjang. Teknik sapuan warna yang halus namun berlapis menciptakan kedalaman tekstur, terutama pada detail kulit, lipatan kain, serta serat kain bendera. Finishing menggunakan vernis matte Winsor & Newton menghasilkan tampilan elegan tanpa pantulan berlebih, sehingga detail lukisan tetap nyaman dinikmati dari berbagai sudut pencahayaan.
Dengan ukuran 80 x 100 cm, lukisan ini memiliki skala yang ideal sebagai karya pernyataan (statement piece), baik untuk ruang koleksi pribadi, galeri, maupun ruang publik yang mengedepankan nilai budaya dan refleksi sosial. Karya ini diselesaikan pada tahun 2022, menjadikannya bagian dari periode matang dalam eksplorasi tema kemanusiaan dan identitas.
TULUS bukan sekadar lukisan figuratif, melainkan arsip emosional tentang peran sunyi generasi terdahulu—khususnya perempuan—dalam menjaga nilai kebangsaan. Karya ini berbicara lirih, namun meninggalkan resonansi yang panjang. Ia mengajak penikmat dan kolektor untuk tidak hanya melihat keindahan visual, tetapi juga merasakan kejujuran dan kehangatan makna yang dijahit perlahan, setitik demi setitik, dengan penuh ketulusan.
Spesifikasi Karya
-
Judul: TULUS
-
Media: Cat minyak Winsor & Newton
-
Media Dasar: Canvas Marsoto (tebal)
-
Finishing: Vernish Matte Winsor & Newton
-
Ukuran: 80 x 100 cm
-
Tahun: 2022
-
Harga: Rp 8.000.000 (Nego)



